Kamis, 11 November 2010

Materi Konflik


Pengertian Konflik
Apa itu berbeda, bersengketa, dan konflik-berkonflik? Berbeda, bersengketa, dan berkonflik adalah tiga situasi yang kiranya bisa dipahami perbedaannya satu sama lain. “Berbeda” adalah situasi alamiah yang merupakan kodrat manusia. “Bersengketa” terjadi apabila dua orang atau dua kelompok (bisa lebih) yang bersaing satu sama lain.untuk mengakui  (hak atas) suatu benda atau kedudukan yang sama. Sedangkan “Berkonflik” adalah suatu situasi yang terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang (bisa lebih) menunjukkan praktek–praktek untuk menghilangkan pengakuan (hak) orang atau kelompok lainnya mengenai benda atau kedudukan yang diperebutkan (W. Boedhi, dkk. 2002). Berikut ini dideskripsi beragam rumusan pengertian konflik yang berdekatan artinya:
·         Menurut Oxford Dictionary (2003), konflik dipahami sebagai ‘situasi dimana orang-orang, kelompok, atau Negara terlibat di dalam perselisihan yang serius
·         Konflik dimengerti sebagai suatu situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau cara pandang diantara dua atau lebih orang, kelompok atau organisasi yang berbeda tak terjembatani. Juga sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya diantara dua atau lebih orang atau kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan yang berbeda, dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, yang mengarah pada konflik, atau hubungan konfliktual;
·         Konflik juga dimengerti sebagai ‘sebuah situasi ketidaksepahaman yang melibatkan para pihak yang berbeda karena merasa terancam dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya‘ (I. Malik, dkk, 2007);
·         Konflik bisa dipahami juga sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih (individu, atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan (S. Fisher, dkk, 2000);
·         Konflik biasanya dipahami pula sebagai benturan antara gagasan–gagasan yang berbeda, sikap-sikap yang berbeda, maupun tindakan-tindakan yang berbeda tujuan serta kepentingannya.
·         Konflik adalah suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Secara ekstrim sampai pada taraf pembinasaan eksistensi seseorang atau kelompok lain yang dipandang sebagai lawan. Perasaan memegang peranan penting dalam memper­tajam perbedaan-perbedaan, sehingga masing-masing pihak berusaha untuk saling menghancurkan.

Prinsip-Prinsip Konflik
Ada beberapa prinsip konflik, yang merupakan prinsip-prinsip dasar yang perlu dipedomani di dalam memikirkan dan memahami fenomena konflik serta ‘status questionis’nya sebagai suatu kenyataan yang eksistensial-manusiawi. Adapun beragam prinsip konflik dimaksud yakni:
§  Konflik itu selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Konflik ada dalam dan hadir dalam kehidupan manusia. Konflik seperti cuaca: selalu ada!
·         Konflik adalah bagian normal dari relasi manusiawi. Konflik itu selalu ada, dan manusia hidup selalu ada konflik, seperti kata pepatah bijak Cina: ‘jika anda tidak pernah bertikai dengan orang lain, anda tidak akan mengenal satu sama lain’.
·         Konflik adalah sesuatu yang dinamis, arahnya menuju perubahan. Secara sosiologis, konflik dimaknai sebagai salah satu cara bagaimana sebuah keluarga, komunitas, organisasi, dan masyarakat dapat berubah. Melalui konflik orang bisa ‘ditahirkan’ untuk bisa melihat kenyataan disekitarnya (sesama, profesi, lingkungan) secara baru dan berbeda. Dengan konflik, bisa terjadi perubahan kearah mobilisasi sumberdaya hidup dengan cara baru. Juga bisa membawa kita pada klarifikasi pilihan-pilihan dan kekuatan untuk mencari penyelesaiannya.
·         Konflik menciptakan energi. Energi dimaksud dapat bersifat merusak (destruktif), tetapi juga bisa bersifat kreatif-konstruktif. Energi konflik dapat dikelolah dan dialihkan demi pertumbuhan diri dan bersama, serta mengarahkan perubahan yang ada.
·         Konflik dipengaruhi oleh pola-pola psikis-emosional, kepribadian, maupun budaya. Reaksi-reaksi serta disposisi psikis (melamun, melawan, diam, extrovert, introvert, dst) berperan penting dalam mempengaruhi proses konflik. Intensitan konflik dan respons konfliktual juga amat dipengaruhi budaya orang.
·         Konflik punya ‘daur hidup’ dan ‘sifat-sifat bawaan’. Konflik dapat bertransformasi, bertambah cepat, perlahan menghilang, atau berubah bentuk. Konflik seperti cuaca: dapat berskala rendah, tapi juga bisa meningkat menjadi ‘badai’!
·         Konflik menggugah kita. Para penulis, pemikir, seniman, politikus, psikologi, sosiolog hingga ahli filsafat semuanya tergugah oleh konflik. Demikian pula kita!
·         Konflik mengandung berbagai makna. Konflik bagai drama yang dapat dianalisis dengan memahami siapa, apa, bagaimana, dimana, kapan, dan mengapa-nya dari kisah cerita konflik. Kebanyakan konflik berwajah jamak, sehingga usaha-usaha untuk memahaminya harus merekonstruksi informasi-informasinya. Satu titik tolak yang sama adalah untuk memahami berbagai makna yang dikandung dalam suatu konflik.
·         Konflik berfungsi produktif (positif) maupun non-produktif (resiko negative). Konflik yang produktif mengarah pada pokok permasalahan, kepentingan/minat, prosedur dan nilai-nilai pemahaman yang pada gilirannya menghasilan seberkas “cahaya”. Sedangkan konflik yang non-produktif cenderung mengarah pada pembentukan prasangka, memburuk komunikasi, sarat emosi, kurangnya informasi yang pada gilirannya menghasilkan “panas” dan bukan “cahaya”. Jadi konflik mengandung manfaat dan peluang positif maupun bahaya negative. Jika dikelola dengan baik maka konflik bisa menjadi sumber energy dan kreativitas yang mengarahkan perubahan yang positif. Diantaranya misalnya: konflik bisa membantu orang untuk saling memahami perbedaan yang ada, perbedaan pekerjaan/profesi atau lingkup tanggung jawab; konflik dapat menciptakan saluran atau ruang komunikasi yang baru; konflik dapat mendorong lahirnya semangat baru pada staf; konflik bisa memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi; serta konflik bisa menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam suatu organisasi misalnya.

Bentuk & Wujud Konflik.
v Konflik horizontal dan konflik vertical. Konflik horizontal adalah konflik yang terjadi diantara masyarakat sendiri, misalnya karena sengketa adat, sengketa tanah, konflik antar suku (etnik) dst. Konflik horizontal cenderung dipicu oleh adanya suatu dampak dari luar. Misalnya hadirnya suatu program atau proyek dari pihak luar yang hanya menguntungkan sekelompok masyarakat tetapi merugikan kelompok masyarakat lain yang berbeda. Ini akan memicu terjadinya sentiment dan kecemburuan social yang bisa melahirkan konflik horizontal diantara masyarakat sendiri. Sedangkan, konflik vertical adalah konflik antara pusat & daerah, antara penguasa & bawahan, antara Negara dan masyarakat, yang mencakup misalnya kekuasaan politik, kekuasaan ekonomi dan kekuasaan militer, yang cukup sering membuat rakyat tak berdaya (bdk. Penguasa orde baru), yang bisa berimbas pada konflik horizontal maupun konflik etnik dan SARA.
v Konflik yang diboncengi. Jarang ditemukan konflik social yang murni bersifat horizontal. Tetapi cukup sering terjadi adanya pengaruh dan pemicu (provokator) dari pihak luar, serta adanya kepentingan luar yang turut berperan melahirkan bersama suatu konflik social. Misalnya sejatinya suatu konflik vertical bisa direkayasa sedemikian sehingga menjadi konflik horizontal. (Boleh jadi konflik social di Maluku juga diboncengi?).
v Konflik Seimbang & Konflik Sepihak. Konflik seimbang terjadi jika para pihak yang berkonflik itu sama, setara atau berimbang kekuatannya. Konflik jenis ini cenderung bisa memakan waktu lama dan cara penyelesaiannya pun agak berbeda. (lamanya kerusuhan Ambon mungkin karena kekuatan para petikai berimbang sehingga makan waktu lama?). Lawannya adalah konflik sepihak atau konflik yang tidak seimbang kekuatan antara pihak yang terlibat. Konflik vertical antara pusat/penguasa dan daerah/rakyat bisa menjadi contoh dari konflik sepihak. Karena itu pola pendekatan penanganan konflik baik yang berupa upaya mediasi, negosiasi, dialog, maupun pola transformasi konflik hendaknya mempertimbangkan pula pihak mana yang kuat dan mana yang lemah, serta berdasarkan atas keadilan, kebenaran dan ahimsa-tanpa kekerasan.  
Selanjutnya, setiap konflik social baik yang horizontal & vertical, konflik yang diboncengi, maupun konflik sepihak dan seimbang diatas senantiasa muncul atau terwujud di dalam beberapa wujud nyata konflik yakni:
1.    Situasi Non-Konflik. Secara umum situasi non-konflik dianggap merupakan kondisi yang lebih baik (ideal), karena situasi social ditandai oleh kehidupan yang rukun tanpa konflik. Akan tetapi situasi non-konflik ini hanya bisa diraih jika kelompok-kelompok social masyarakat yang berbeda yang mau hidup berdamai, haruslah bersemangat, dinamis serta kreatif bukan hanya dalam memanfaatkan dan mengarahkan potensi konflik perilaku dan tujuan, tetapi perlu juga mengelola potensi konflik secara kreatif.
2.    Konflik Laten (konflik yang tersembunyi). Maksudnya wujud konflik laten cenderung masih tersembunyi. Akan tetapi jangan sampai konflik laten menjadi suatu kontravensi yakni keadaan yang terus menumpuk dendam, dengki benci yang membara (semacam api dalam sekam),   maka perlu diangkat ke permukaan melalui apa yang disebut sebagai praktek dan pola ‘mengintensifkan konflik’. Pengintensifan konflik adalah cara mengungkapkan konflik laten ke permukaan dan menjadikannya terbuka, sehingga dapat ditangani secara efektif guna mencapai suatu tujuan tanpa perlu melibatkan kekerasan.
3.    Konflik di Permukaan atau Konflik Mencuat (emerging conflict). Adalah wujud konflik yang memiliki akar yang dangkal atau tidak berakar dan muncul hanya karena kesalahpahaman mengenai sasaran, yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi. Sering terjadi bahwa suatu konflik mencuat dapat digiring intensitas dan eskalasinya menjadi suatu konflik terbuka melalui suatu mekanisme atau cara ‘meningkatkan konflik’. Upaya ‘Peningkatan Konflik’ sebetulnya merujuk pada suatu situasi yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketegangan dan kekerasan dalam wujud konflik terbuka.
4.    Konflik Terbuka, adalah wujud konflik yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya. Bahkan pendekatan penanganannya bukan haruslah menjangkau akar masalah, serta merubah kondisi yang buruk menjadi lebih baik, melalui cara pendekatan transformasi konflik misalnya.
Cukup sering terjadi bahwa suatu konflik yang ditekan dan semakin ditekan bisa jadi akan memicu munculnya masalah-masalah lain yang baru yang tak disadari. Dan mungkin saja, konflik yang ditekan itu sebetulnya bisa menjadi bagian dari solusi atas suatu masalah. Suatu konflik akan berubah menjadi kekerasan jika: Saluran dialog dan wadah untuk mengungkapkan perbedaan pendapat tidak memadai lagi; Suara-suara ketidaksepakatan dan keluhan-keluhan yang terpendam tidak didengar dan diatasi; tetapi juga banyak ketidakstabilan, ketidakadilan dan ketakutan dalam masyarakat yang lebih luas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar